- Telp : 021 – 7940380 / 0813-1839-142
- pbwanita@alirsyad.or.id
- Jumat, 05 September 2025
Al-Irsyad, setelah lebih seabad berkiprah
Oleh: Hamid Abud Attamimi
Al-Irsyad sebagai museum besar
Seratus sebelas tahun seharusnya bukan sekedar deretan angka, apalagi tampilan logo. Sebab sekalipun itu menjelaskan rentang waktu yang telah dijalani, dari kelahiran hingga saat ini, sekalipun itu menyimpan cerita sebuah dinamika, tetapi ia tak menguraikan sebuah pencapaian.
Al-Irsyad Al-Islamiyyah sebagai sebuah Organisasi Kemasyarakatan berbasis anggota lahir bukan tanpa missi besar yang mengiringi kelahirannya, ada pikiran, cita-cita, harapan, juga hal-hal di luar sana yang menggumpalkan keyakinan bahwa Pendidikan adalah pilihan logis dan mutlak untuk menyadarkan Ummat, bahwa perubahan hanya lahir jika diperjuangkan.
Jika cuma ini missi dan makna Al-Irsyad, yaitu sebagai 'museum', maka telah memadai untuk dieksplorasi.
Ada puluhan, malah mungkin ratusan, dosen, mahasiswa serta peneliti dalam dan luar negeri yang bergelut untuk mencari tau tentang siapa Syekh Ahmad Syurkati, ide-idenya, pemikirannya, kiprahnya, bahkan pernak-pernik kedatangannya, konflik batinnya, serta sahabat dan orang-orang yang kurang menyukainya.
Ada banyak tulisan ilmiah yang menulis tentang Syekh Ahmad, baik itu skripsi, thesis bahkan desertasi.
Apakah ini semua menjadi bukti pencapaian Al-Irsyad??
In syaa Allaah kita semua sepakat, sama sekali bukan itu yang jadi parameter pencapaian atau prestasi Al-Irsyad. Memang tidak banyak Organisasi di Indonesia ini yang bertahan lebih dari seabad, dan itu menjadi bukti, bahwa Al-Irsyad Al-Islamiyyah punya kekuatan, semua ini harus kita syukuri sebagai rahmat Allaah Subhanahu wa Ta'ala. Dan banyak Peneliti mengakui, faktor penentu yang membuat Al-Irsyad tetap eksis adalah karena Syekh Ahmad Syurkati membangun organisasi ini disamping bertumpu pada Al Qur'aan dan Sunnah Rasulullah, juga tidak menafikan perkembangan dan kemajuan zaman, bahkan merekomendasikan mengambil faedah dari segala alat dan cara tehnis, organisasi dan administrasi modern yang bermanfaat bagi pribadi dan ummat, selama tidak bertentangan dengan Islam.
Hal ini semua termaktub dalam butir-butir Mabda Al-Irsyad.
Al-Irsyad sebagai wadah Perjuangan
"Sesungguhnya masalah Organisasi atau lembaga masih dan akan terus menjadi hal besar yang tanpanya akan sulit dan bahkan mustahil bagi manusia untuk melakukan pekerjaanpekerjaan besar dan tujuan mulia"
(Syekh Ahmad Surkati)
Perjuangan bukan teriakan-teriakan heroik menggelegar, apalagi sekedar pidato dari podium ke podium. Menjadi narasumber dari seminar ke podcast, atau menulis di setiap koran serta media sosial.
Bahwa berpidato, menjadi narasumber serta menulis bisa menjadi sarana menjelaskan dan memotivasi orang untuk sama berjuang, itu tak boleh kita tolak, tetapi yang amat naif, jika perjuangan tak menyentuh sama sekali akar masalah dan problem utama, mengapa Organisasi ini tak menampilkan performanya sebagai Organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad.
Pengurus, baik di Pusat, Wilayah juga di Cabang, tak melulu dipilih karena memiliki basic suara, tetapi karena dia dianggap punya kapasitas serta kapabilitas dalam mengemban Amanah. Kompetensi tentu jelas memadai, tetapi niat tulus untuk menjalankan Organisasi, menunaikan harapan anggota serta menuntaskan Ammar Muktamar, Musyawarah Wilayah dan Musyawarah Cabang, cuma terwujud jika ada rencana serta program yang dijalankan.
Mengapa Muktamar yang setiap lima tahun diselenggarakan, dan itu sudah melampaui angka 40, sering berhenti pada ketukan palu dan tumpukan bundel Keputusan dan Ketetapan?
Tanpa bermaksud mencari siapa dan apa yang salah, tetapi adalah hal yang mutlak bahwa setiap Pengurus harus memahami sejarah dan missi utama Al-Irsyad, sebab Al-Irsyad bukan rumah kosong.
Dari pemahaman yang utuh, kita bisa berharap kesamaan gerak serta langkah, juga ketepatan solusi yang diberikan.
Belajar dari pengalaman adalah bukti kebijakan serta kedalaman pemikiran, perasaan seseorang, dan itu hanya mungkin dijalankan oleh pribadi-pribadi yang rendah hati, tak memandang perbedaan sebagai sekat yang memisahkan.
Organisasi memang kumpulan pribadi-pribadi, tetapi ia bukan menjalankan missi atau kepentingan pribadi serta kelompok, lebih dua dasa warsa lalu Organisasi ini berpengalaman menghadapi kelompok internal yang menjalankan agenda terselubung.
Alhamdulillah... pertolongan Allaah membersamai kita, serta jangan lupa pada kesetiaan Cabang serta Yayasan, mereka para avonturir tergilas oleh kesombongan dan keangkuhannya, dan jangan lupa, mereka lebih fasih dari kita dalam mengulas Ayat dan Hadits.
Berkaca dari hal-hal tersebut, dan tidak pernah ada yang bisa menjamin bahwa sejarah tak akan berulang, maka soliditas internal harus jadi acuan bersama.
Soliditas tidak dibangun semata dalam struktur formal, tetapi kesamaan pikiran dan perasaan, yaitu dengan menjalankan program yang memang jadi tumpuan serta harapan bersama.
Wilayah serta Cabang dan Yayasan bukan statistik untuk memenuhi syarat formal Undang-Undang Keormasan, atau jumlah untuk memenuhi quorum musyawarah.
Jumlah sekolah, pesantren, Perguruan Tinggi, rumah sakit, bukan semata objek questionnaire, inilah rahmat dan karunia Allaah, sekaligus amanah yang kita emban bersama.
Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai kebaikan, karena kebaikanlah yang terus harus kita bagi pada Ummat.
Al-Irsyad telah seabad lebih kita lewati, dan kita berharap seabad mendatang pun Al-Irsyad tetap berkhidmat pada kemaslahatan, hanya dengan inilah kita menjadi penerus perjuangan Allaah Yarham Ahmad Syurkati.
Maka tak ada jalan lain kita harus terus bergerak, belajar, bertanya, mendengar, apalagi jika Pendidikan yang jadi tumpuan perjuangan, tentu dengan tidak menafikan Da'wah, Sosial, dan Ekonomi.
In syaa Allaah dengan penguatan Pendidikan, akan menciptakan anak didik yang berbasis Qur'aan dan Sunnah, serta berakhlakul karimah, kita sekaligus menyiapkan kader bagi lahan Da'wah serta sosial ekonomi.
"Kita wajib melepaskan pakaian malas dan turun kelapangan pekerjaan serta terus saling memberi nasehat dalam kebaikan dan kesabaran"
(Syekh Ahmad Surkati)
Tantangan dan hambatan tak pernah hilang dengan memejamkan mata, atau menganggap tak pernah ada.
Cara atau perilaku di atas cuma dilakukan oleh mereka yang picik, maka hadapilah tantangan apapun, rubahlah tantangan menjadi peluang dan kesempatan.
Sebesar apapun perbedaan dengan Cabang serta Yayasan, apalagi ia institusi resmi yang bahkan disebut dalam Anggaran Dasar, maka harus didengar aspirasinya.
Bagaimana jika pilihannya justru sebaliknya, setiap pilihan punya konsekwensi..., dan setiap pilihan menunjukkan kapasitas yang memilih.
Al-Irsyad memang sampai saat ini belum mempunyai Pimpinan Pusat sekuat Muhammadiyyah, tetapi bukan berarti Pimpinan Pusat tak bisa kuat, karena kekuatan tak dibangun sendiri, harus ada kebersamaan, melalui saling menghargai.
Menuju Al-Irsyad kuat yang menjunjung tinggi Akhlak!
Cirebon, 05 September 2025
Ditulis sebagai sumbangsih pikiran untuk menyambut Milad Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-111 ( 6 September 1914 - 2025 ).













